Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament)

October 31, 2020


Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan keaktifan seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Keaktifan belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Ratumanan (2002:15) memberikan batasan mengenai TGT ini sebagai berikut,

pembelajaran kooperatif dengan metode TGT adalah suatu pembelajaran dimana setelah kehadiran guru, siswa pindah ke kelompoknya masing-masing untuk mendiskusikan dan menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang diberikan guru. Sebagai ganti dari tes tertulis, setiap siswa akan bertemu pada meja tournament dengan siswa lain dari kelompok yang berbeda untuk membandingkan kemampuan kelompoknya dengan kelompok yang lain.

Menurut Yasa, Doantara (dalam Astuti, 2011:23)  menyatakan bahwa ada beberapa langkah model pembelajaran TGT adalah sebagai berikut: (1) tahap persiapan, (2) tahap pembelajaran, (3) tahap turnamen, (4) tahap penghargaan kelompok. Adapun sintaks  model pembelajaran TGT adalah sebagai berikut.

Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran TGT (Teams Games Tournamen)

Fase

Peranan Guru

1)    Tahap Persiapan

Hal-hal yang dipersiapkan dalam tahapan ini adalah sebagai berikut:

a)     Materi pelajaran

Materi pelajaran dalam hal ini dirancang untuk pembelajaran kelompok dan disesuai dengan pembelajaran kooperatif

b)    Menetapkan siswa secara kelompok

c)     Menyiapkan siswa untuk belajar secara kooperatif

2)    Tahap Pembelajaran

Dalam tahap ini terdapat beberapa hal, diantaranya:

a)     Pendahuluan

b)    Penyajian informasi dan materi

c)     Pembentukan kelompok

d)    Kerja dan belajar kelompok

e)     Evaluasi

3)    Tahap Games Turnament

Tahapan ini dilakukan setelah siswa belajar secara kelompok pada tahap pembelajaran dimana siswa diajak dalam suatu permainan akademik atau turnamen. Permainan ini digunakan sebagai tinjauan kembali terhadap materi pembelajaran sebelum siswa mengalami tes individual.

4)    Tahap Penghargaan Kelompok

Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung skor rerata skor kelompok.

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe TGT seperti pada sintaks di atas akan dijelaskan secara rinci sebagai berikut.

Tahap pertama yaitu Persiapan, persiapan ini dimaksudkan diamana seorang guru yang ingin menggunakan TGT ini di dalam mengajar perlu sedianya menyiapkan hal-hal yang akan diperlukan nanti. Hal yang perlu dipersiapkan pertama adalah materi pelajaran, dimana materi yang disiapkan harus dirancang untuk pembelajaran kelompok dan disesuaikan dengan pembelajaran kooperatif. Kedua yang perlu disiapkan adalah menetapkan siswa dalam kelompok, karena hakikatnya pembelajaran yang berbau kooperatif harus berbentuk kelompok yang anggota kelompoknya heterogen baik tingkat pengetahuan, kelamin, maupun ras/suku. Dan persiapan yang ketiga, yaitu guru harus menyiapkan siswanya untuk belajar secara kooperatif, agar mereka mau bekerja sama dan tidak ada yang pasif.

Tahap kedua yaitu Tahap Pembelajaran, tahap pembelajaran ini diawali dengan pendahuluan yang dimana pada pendahuluan ini guru menyampaikan tujuan dan memotivasi siswanya. Kemudian dilanjutkan dengan penyajian informasi dan materi, biasanya guru menyajikan materi pelajaran seperti biasa dengan ceramah, diskusi, demontrasi atau eksperimen tergantung dari karakteristik materi yang sedang disampaikan serta ketersediaan sarana dan prasarana sekolah yang bersangkutan. Guru harus berusaha mengingatkan agar siswa mendengarkan dan memahami informasi yang diberikan karena informasi yang diberikan akan sangat bermanfaat dengan pertanyaan-pertanyaan di dalam turnamen nanti serta skor yang diterima oleh masing-masing individu akan mempengaruhi skor akhir kelompok nanti. Setelah penyajian informasi dan materi dilanjutkan dengan pembentukan tim/kelompok. Pada fase ini guru membentuk kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4-6 orang yang bersifat heterogen. Yang harus berikan siswa dengan berkemampuan tinggi, sedang dan rendah serta jenis kelamin yang berbeda pula. Fungsi dari kelompok ini adalah untuk melatih semua anggota kelompok untuk belajar, mengkaji materi yang disampaikan oleh guru, berdiskusi, membantu anggota kelompok yang belum mengerti atau menemui kesulitan sehingga semua siswa yang berada di dalam kelompok yang bersangkutan siap untuk mengikuti kuis. Setelah kelompok dibentuk siswa diarahkan untuk bekerja sama di dalam kelompoknya, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi yang bertujuan mengukur pemahaman siswa.

Tahap ketiga ialah Games Tournament, dimana dalam fase ini setiap siswa akan bersaing merupakan wakil masing-masing kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing-masing ditempatkan dalam meja-meja turnamen. Tiap-tiap meja turnamen ditempati oleh 6-8 orang (disesuaikan dengan keadaan kelas), dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan memiliki kemampuan setiap peserta homogen. 

Pada Gambar 1 ditunjukan hubungan antara kelompok yang heterogen dan meja turnamen yang homogen.


Gambar 2.1 Ilustrasi Skema TGT

Dapat dijelaskan bahwa permainan diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Langkah-langkahnya sebagai berikut. Setiap kelompok mengutus perwakilannya untuk mewakili di dalam permainan. Kemudian setiap pemain tiap meja menentukan terlebih dahulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara melakukan undian, kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisikan soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undiang yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang terdapat di dalam soal. Setelah waktu selesai maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang kemudian ditanggapi oleh penantang. Setelah itu pembaca soal akan membacakan kunci jawaban yang benar dan skor diberikan kepada siswa yang memiliki jawaban yang benar pertama kali antara pemain dan penantang dan apabila jawabannya semua salah maka kartu dibiarkan saja tanpa ada yang mendapatkan skor. Kemudian terjadi pertukaran peran searah putaran jarum jam, agar semua pemain di dalam meja yang bersangkutan pernah berperan menjadi pemain, pembaca soal, dan penantang. Permainan aka dilanjutkan dengan kartu soal selanjutnya sampai kartu soal semuanya habis terbacakan, ada syarat yang harus dipenuhi yaitu semua peserta haru mendapatkan perlakuan yang sama yaitu pernah menjadi pemain, pembaca soal dan penantang. Selain itu pemain yang bertugas menjadi pembaca soal tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban kepada peserta yang lain. Setelah semua kartu terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan  tabel yang sudah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompoknya asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukannya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.

Tahap selanjutnya adalah, pemberian penghargaan kelompok. Untuk memperoleh skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan skor anggota masing-masing kelompok kemudian dicari reratanya. Berdasarkan skor rerata kelompok akan diperoleh gambaran perbedaan prestasinya. Dari skor rerata kelompok ini guru dapat memberikan penghargaan kepada masing-masing kelompok berdasarkan kriteria yang tersedia pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Kriteria Penghargaan untuk Kelompok

No.

Kriteria (Rerata Kelompok)

Predikat

1

X < 15

Kelompok Kurang

2

15 ≤ X ≤ 20

Kelompok Cukup

3

20 ≤ X ≤ 25

Kelompok Baik

4

25 ≤ X

Kelompok Sangat Baik

(Sumber: Adaptasi dari Slavin, 2005)

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament) Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament) Reviewed by Sastra Project on October 31, 2020 Rating: 5

Laboratorium Maya (Virtual Laboratory)

September 08, 2016
Pembelajaran sains (fisika) pada hakekatnya melibatkan dimensi produk dan proses. Sund dan Trwobridge (dalam Mardana, 1998) menyatakan dimensi produk merupakan kumpulan teori yang telah teruji kebenarannya, sedangkan dimensi prosesnya, merupakan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk memperoleh pengetahuan atau gejala-gejala alam yang sering dikenal sebagai metode ilmiah yang berlandaskan pada sikap ilmiah. 
Laboratorium Maya (Virtual Laboratory) Laboratorium Maya (Virtual Laboratory) Reviewed by Sastra Project on September 08, 2016 Rating: 5

Model Pembelajaran Berbasis Web

September 05, 2016
Teknologi internet memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk mendapatkan informasi apa saja dari mana saja dan kapan saja dengan mudah dan cepat. Informasi tersedia diberbagai pusat data diberbagai computer di dunia.
Model Pembelajaran Berbasis Web Model Pembelajaran Berbasis Web Reviewed by Sastra Project on September 05, 2016 Rating: 5

Model Pembelajaran Problem Solving dan Reasoning

September 05, 2016
Setiap hari individu dihadapkan pada berbagai situasi yang harus kita selesaikan dengan baik. Pembelajaran yang sering digunakan guru memberi dampak bahwa siswa diajarkan untuk menjawab dan mendengarkan tidak melatih siswa untuk melatih proses berpikirnya.
Model Pembelajaran Problem Solving dan Reasoning Model Pembelajaran Problem Solving dan Reasoning Reviewed by Sastra Project on September 05, 2016 Rating: 5

Teori Self Efficacy

September 04, 2016
Bandura (dalam Hayati, 2010) menyatakan walaupun prinsip belajar cukup untuk menjelaskan dan meramalkan perubahan tingkah laku, prinsip tersebut harus memperhatikan dua fenomena penting yang diabaikan atau ditolak oleh paradigma behaviorisme. Dua fenomena tersebut adalahsebagai berikut.  
Teori Self Efficacy Teori Self Efficacy Reviewed by Sastra Project on September 04, 2016 Rating: 5

Teknik Mengajar Scaffolding

August 28, 2016
Scaffolding pertama kali diperkenalkan oleh Wood, Bruner, dan Ross (dalam Jalmo, 2009), merupakan proses meningkatkan kemampuan siswa atau orang yang baru dalam memecahkan masalah atau mencapai tujuan di luar dari kemampuan dirinya. Vygotsky mendefinisikan scaffolding sebagai “peran guru dan lainnya dalam membantu perkembangan siswa dan pemberian dukungan terstruktur untuk mencapai tahap atau tingkat berikutnya.
Teknik Mengajar Scaffolding Teknik Mengajar Scaffolding Reviewed by Sastra Project on August 28, 2016 Rating: 5

Model Pembelajaran CPS (Creative Problem Solving)

August 27, 2016
Pemecahan masalah (problem solving) merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar fisika di sekolah (Tao dalam Suma, 2006). Pengajaran dengan model pembelajaran pemecahan masalah di sekolah dapat membantu siswa mempelajari konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama sehingga mampu menerapkannya untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Model Pembelajaran CPS (Creative Problem Solving) Model Pembelajaran CPS (Creative Problem Solving) Reviewed by Sastra Project on August 27, 2016 Rating: 5
Powered by Blogger.