Silakan Melihat Daftar Isi di Bagian Paling Bawah Blog Untuk Melihat Daftar Artikel Lengkap

Thursday, 24 January 2013


Pikiran dapat diartikan sebagai kondisi letak hubungan antar bagian pengetahuan yang telah ada dalam diri yang dikontrol oleh akal. Akal adalah sebagai kekuatan yang mengendalikan pikiran. Sedangkan berpikir berarti meletakkan hubungan antar bagian pengetahuan yang diperoleh manusia. Berpikir sebagai proses menentukan hubungan-hubungan secara bermakna antara aspek-aspek dari suatu bagian pengetahuan. Sedangkan bentuk aktivitas berpikir merupakan tingkah laku simbolis, karena seluruh aktivitas ini berhubungan dengan atau mengenai penggantian hal-hal yang konkrit. Berpikir merupakan proses dinamis yang menempuh tiga langkah berpikir yaitu: (1) pembentukan pengertian yaitu melalui proses mendeskripsi ciri-ciri objek yang sejenis, mengklasifikasi ciri-ciri yang sama, mengabstraksi dan menyisihkan, membuang, dan menganggap ciri-ciri yang hakiki; (2) pembentukan pendapat, yaitu meletakkan hubungan antar dua buah pengertian atau lebih yang dapat dirumuskan secara verbal berupa pendapat menolak, pendapat menerima, dan pendapat asumtif yaitu mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan suatu sifat pada suatu hal; dan (3) pembentukan keputusan, yaitu penarikan kesimpulan yang berupa keputusan sebagai hasil pekerjaan akal berupa pendapat baru yang dibentuk berdasarkan pendapat-pendapat yang sudah ada (Sagala, 2007).

Peter Reason (dalam Sanjaya, 2008) menyatakan berpikir (thinking) adalah proses mental seseorang yang lebih dari sekadar mengingat (remembering) dan memahami (comprehending). Mengingat dan memahami lebih bersifat pasif daripada kegiatan berpikir. Berpikir meyebabkan seseorang harus bergerak hingga di luar informasi yang diingat dan dipahaminya.

Kini konsep belajar sepanjang hayat telah memperoleh arti yang sangat penting karena tiap individu dapat memperbaharui pengetahuan yang telah diperolehnya melalui proses belajar dengan berorientasi pada learner centered. Terdapat delapan keterampilan umum dalam pendidikan jaman modern yaitu: pemikiran kritis, pemikiran kreatif, komunikasi ilmiah, penelitian-tanya jawab, memecahkan masalah, menggunakan teknologi informasi, kewiraswastaan, dan menggunakan bahasa dengan tepat dan secara efisien (Arkun dan Akkoyunlu, 2008). Kurlik dan Rudnick (dalam Aryati, 2008) menyebutkan bahwa berpikir adalah bagian penalaran yang melebihi ingatan. Tingkatan keterampilan berpikir ini dilihat pada Gambar

Berpikir kritis adalah suatu proses yang memfasilitasi pebelajar untuk memperoleh pengetahuan baru melalui pemecahan masalah dan kerja sama/kolaborasi. Berpikir kritis memusatkan pada proses pembelajaran bukan mencapai informasi semata. Keterampilan ini melibatkan menemukan bagaimana cara meneliti, manyatukan, membuat keputusan, serta menciptakan dan menerapkan pengetahuan baru ke situasi dunia nyata.

Orlich, et al. (dalam Ibrahim, 2007) menyatakan bahwa kemampuan yang berasosiasi dengan berpikir kritis yang efektif meliputi: (1) mengobservasi; (2) mengidentifikasi pola, hubungan, hubungan sebab-akibat, asumsi-kesalahan alasan, kesalahan logika dan bias; (3) membangun kriteria dan mengklasifikasi; (4) membandingkan dan membedakan, (5) menginterpretasikan; (6) meringkas; (7) menganalisis, mensintesis dan menggeneralisasi; mengemukakan hipotesis; (8) membedakan data yang relevan dengan yang tidak relevan, data yang dapat diverifikasi dan yang tidak, membedakan masalah dengan pernyataan yang tidak relevan. Sehubungan dengan itu, ciri-ciri orang yang mampu berpikir kritis adalah: (a) memiliki perangkat pikiran tertentu yang dipergunakan untuk mendekati gagasannya, dan memiliki motivasi kuat untuk mencari dan memecahkan masalah, (b) bersikap skeptis yaitu tidak mudah menerima ide atau gagasan kecuali dia sudah dapat membuktikan kebenarannya. Berdasarkan uraian seperti di atas, maka keterampilan berpikir kritis yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah proses mental yang mencakup kemampuan merumuskan masalah, memberikan dan menganalisis argumen, melakukan observasi, menyusun hipotesis, melakukan deduksi dan induksi, mengevaluasi, dan mengambil keputusan serta melaksanakan tindakan. Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu bentuk dari keterampilan tingkat tinggi (high order thinking).

Ciri-ciri lain dari keterampilan berpikir kritis menurut Schfersman (dalam Aryati, 2008) baik dalam konteks pengetahuan, kemampuan, sikap, maupun konteks kebiasaan perilaku adalah: (1) menggunakan bukti atau fakta secara terampil dan berimbang; (2) mengorganisasi ide dan mengartikulasikannya secara ringkas dan koheren; (3) membedakan antara kesimpulan yang secara logika, valid, dan invalid; (4) meragukan penilaian yang tidak didukung oleh bukti yang cukup guna pengambilan keputusan; (5) memahami perbedaan antara penalaran dan rasionalisasi; (6) berusaha mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan konsekuensi dan tindakan alternatif; (7) melihat kesamaan dan analogi secara mendalam; (8) mampu belajar secara mandiri; (9) menerapkan teknik pemecahan masalah dalam domain lain dari yang telah dipelajari; (10) dapat menyusun representasi masalah dari informasi yang serupa dengan cara teknik formal; (11) sensitif terhadap perbedaan antara validitas dan intensitas dari suatu keyakinan; (12) sadar terhadap fakta bahwa pemahaman itu memiliki keterbatasan; dan (13) mengakui kekeliruan opini pribadi, dan menyadari kemungkinan opini yang bias

Komponen dan Indikator Keterampilan Berpikir Kritis

Adapun komponen dan indikator-indikator dari setiap komponen berpikir kritis menurut Ennis (1985) dapat disajikan seperti dalam Tabel dibawah.

Komponen dan Indikator dari Keterampilan Berpikir Kritis

No
Komponen Keterampilan Berpikir Kritis
Indikator
1
Merumuskan masalah
Memformulasikan pertanyaan yang mengarahkan investigasi
2
Memberikan argumen
Argumen sesuai dengan kebutuhan
Menunjukkan persamaan dan perbedaan
Argumen yang utuh
3
Melakukan deduksi
Mendeduksi secara logis
Menginterpretasi secara tepat
4
Melakukan induksi
Melakukan investigasi pengumpulan data
Menganalisis data
Membuat generalisasi
Menarik kesimpulan
5
Melakukan evaluasi
Mengevaluasi berdasarkan fakta
Memberikan alternatif lain
6
Mengambil keputusan dan tindakan
Menentukan jalan keluar
Memilih kemungkinan yang akan dilaksanakan
 
Berdasarkan Tabel dibawah, tampak bahwa keterampilan berpikir kritis dapat dikaitkan dengan aktivitas merumuskan masalah, melakukan deduksi, melakukan induksi, melakukan evaluasi dan mengambil keputusan serta melaksanakannya.

Sedangkan proses dan deskripsi serta indikator dalam berpikir kritis menurut Murphy (dalam Aryati, 2008) dapat dilihat pada Tabel berikut.
 
Proses dan Tahap serta Indikator dalam Berpikir Kritis

Proses
Deskripsi
Indikator
Pengenalan

Pengenalan atau identifikasi terhadap isu, dilema,  masalah dan lain-lain.
§  Pengenalan, identifikasi atau memusatkan pada isu, dilema, masalah, kebingungan atau kegelisahan yang menuntut penyelidikan dan klarifikasi lebih lanjut.
Pemahaman

Menyelidiki bukti yang terkait dengan isu, pengetahuan, penelitian, dan informasi serta perspektif.
§  Mengelidiki dan mengidentifikasi apa yang berkaitan dengan isu, dilema, masalah dan lain-lain.
§  Menempatkan pengetahuan, kesimpulan yang sebelumnya diterima, atau bukti-bukti dari sumber lain sebagai latar belakang informasi.
§  Menempatkan alternatif perspektif  atau bukti pada isu, dilema, masalah, dan lain-lain.
§  Melakukan observasi
§  Mengklarifikasi atau menilai sifat alami dari isu, dilema dan masalah.
§  Tanya jawab, saling bertukar informasi.
Analisis

Pencarian klarifikasi secara mendalam, mengorganisasi pengetahuan yang dikenal, mengidentifikasi pengetahuan yang tidak dikenal, dan menganalisis komponen dasar pada isu, dilema, ataupun masalah yang dihadapi.
§  Mulai dengan cara baru dalam berpikir dan bertindak.
§  Mengkategorikan dan mengelompokkan bukti, informasi, pengetahuan atau perspektif.
§  Membedakan persamaan dan perbedaan alternatif perspektif atau bukti pada isu, dilema atau masalah.
§  Menginterpretasikan dan menjelaskan isu, dilema atau masalah.
§   Merinci isu, dilema atau masalah ke dalam bagian utama.
§   Mengidentifikasi dan mengisi kekosongan informasi, pengetahuan dan menghakiminya dengan menggunakan pemikiran sendiri.
Evaluasi

Mengkritisi dan memutuskan informasi, pengetahuan atau perspektif
§  Menghakimi validitas, nilai, informasi yang relevan, pengetahuan dan sumber.
§  Mengkritisi perspektif dan asumsi.
§  Mendeteksi ketidakkonsistenan, dan pemikiran yang keliru.
§  Pembuatan definisi.
§  Menggunakan bukti untuk  mendukung argumen.
§  Mempertahankan atau menolak bukti, informasi, pengetahuan atau perspektif.
Penciptaan/sintesis
Memproduksi pengetahuan baru, perspektif atau strategi dalam menerapkannya
§  Menerapkan atau melaksanakan strategi.
§  Menerapkan solusi, keputusan dan kesimpulan.
§  Membangun, menciptakan, menemukan dan memikirkan perspektif atau pengetahuan baru.
§  Membangkitkan hipotesis dan perspektif alternatif.
§  Bertindak pada solusi, keputusan dan kesimpulan.
§  Pelaksanaan atau perubahan terhadap penerapan atau rencana.

Pada Tabel 2.2 tampak bahwa secara teoritis pengembangan keterampilan berpikir kritis juga didukung oleh aktivitas pengenalan, pemahaman, analisis, evaluasi, penciptaan atau sintesis. Hubungan antara model ADDIE dengan keterampilan berpikir kritis adalah terletak pada langkah-langkah model pembelajaran tersebut yang mampu mengakomodasi keterampilan berpikir kritis siswa (Sharifuddin, 2007). Melalui langkah-langkah model ADDIE memberi kesempatan siswa untuk menumbuhkembangkan keterampilan berpikir kritisnya karena seseorang individu dapat mengidentifikasi permasalahan, menerka atau merancang strategi pemecahan masalah, mengembangkan dan menerapkan strategi tersebut, dan menilai apa-apa saja yang diketahui. Aktivitas yang ditunjukkan siswa dalam bentuk pengajuan hipotesis, investigasi, dan eksperimen. Hipotesis yang disusun oleh siswa berkaitan erat dengan prior knowledge yang dimilikinya atau bahkan hasil dari pengalaman nyata. Adanya interaksi sosial-ilmiah dapat memberi kebebasan siswa dalam kelompok untuk lebih peka terhadap lingkungan.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar untuk kemajuan blog ini

 
Copyright 2009 MEDIA FUNI@