Gender

Santrock (2008) mengemukakan bahwa gender adalah dimensi sosiokultural dan psikologis dari laki-laki dan perempuan. Banyak aspek dari kehidupan seseorang yang dapat dikaji untuk mengetahui seberapa mirip dan berbeda antara anak laki-laki dan perempuan dalam bidang akademis yaitu (1) penampilan fisik, (2) keahlian matematika dan sains, (3) kemampuan verbal, serta (4) agresi dan regulasi diri.
1. Penampilan fisik
Perubahan hormonal pada masa pubertas menyebabkan pertambahan massa otot pada anak laki-laki dan pertambahan lemak pada anak perempuan. Hal ini akan menguntungkan anak laki-laki saat beraktivitas dalam kegiatan yang berhubungan dengan kekuatan, ukuran, dan energi sehingga pada umumnya anak laki-laki lebih unggul daripada anak perempuan di bidang olahraga.

2. Keahlian matematika dan sains
Perbedaan gender dalam kemampuan matematika tidaklah terjadi di semua konteks. Anak laki-laki lebih baik dalam perhitungan yang berhubungan dengan pengukuran, sains, dan olahraga sedangkan anak perempuan lebih baik dalam perhitungan yang berhubungan dengan tugas-tugas tradisional wanita, seperti memasak dan menjahit. Perbedaan gender dalam bidang sains tidak terjadi di semua tahapan usia. Santrock (2008) mengemukakan bahwa anak laki-laki sedikit lebih baik dalam bidang sains daripada anak perempuan pada kelas empat, delapan dan, sepuluh tetapi tidak terdapat perbedaan pada saat kelas dua belas.

3. Kemampuan verbal
Santrock (2008) mengemukakan bahwa selama masa sekolah dasar dan menengah anak perempuan lebih unggul daripada anak laki-laki dalam hal membaca dan menulis.

4. Agresi dan regulasi diri
Salah satu perbedaan yang paling konsisten antara anak laki-laki dan anak perempuan adalah anak laki-laki lebih agresif daripada anak perempuan. Perbedaan ini terjadi di semua kultur dan tampak sejak awal perkembangan anak serta akan tampak dengan jelas saat anak diprovokasi. Penyebab adanya perbedaan agresi ini tidak lain faktor biologis dan faktor lingkungan. Faktor biologis mencakup faktor hereditas dan hormon sedangkan faktor lingkungan mencakup ekspektasi kultural (seperti orang dewasa dan teman sebaya) dan penghargaan terhadap agresi fisik anak laki-laki.

2.2 Gender dalam Bidang Sains
Suciani (2003) mengemukakan bahwa siswa perempuan cenderung lebih putus asa daripada siswa laki-laki. Mereka meremehkan kemampuannya dan tidak mau berusaha keras, terutama dalam bidang matematika dan IPA. Santrock (2008) mengemukakan bahwa anak laki-laki lebih memilih pelajaran matematika dan sains daripada anak perempuan.

Stadlert, et al., (2000) mengungkapkan bahwa siswa laki-laki dan siswa perempuan memiliki perbedaan dalam ilmu fisika di mana siswa laki-laki mencapai nilai yang lebih tinggi sehingga mereka lebih tertarik terhadap ilmu fisika dibanding siswa perempuan. Siswa perempuan berpikir bahwa mereka akan memahami konsep fisika jika mereka dapat mengaplikasikannya dalam dunia nyata. Siswa laki-laki menganggap fisika itu penting dan mereka akan menyenangi fisika jika terdapat hubungan internal dengan materi fisika yang dipelajarinya.

Stadlert, et al., (2000) mengungkapkan bahwa penelitian mengenai gender telah menunjukkan bahwa siswa laki-laki dan siswa perempuan memiliki perbedaan dalam mengartikan fisika sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar yang diperolehnya. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran fisika dikaitkan dengan konteks nyata yang sesuai dengan kehidupan siswa sehari-hari. Kesesuaian ini menyangkut tiga aspek yaitu (1) keterkaitan antara isi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari, (2) corak pemahaman terhadap bahasa tubuh, dan (3) kejadian yang menyentuh perasaan dan emosi. Siswa laki-laki memandang ilmu fisika bermanfaat untuk dirinya sendiri dan mereka akan merasa senang jika mempelajari ilmu fisika.

Stadlert, et al., (2000) mengungkapkan bahwa adanya perbedaan pandangan terhadap ilmu fisika mengakibatkan adanya perbedaan tingkah laku antara siswa laki-laki dan siswa perempuan dalam pembelajaran fisika. Pertama, saat guru memberikan sebuah pertanyaan yang bersifat tertutup, siswa laki-laki lebih mendominasi dalam menjawab sedangkan jika guru memberikan pertanyaan yang bersifat terbuka, siswa perempuan yang lebih mendominasi. Kedua, siswa laki-laki lebih sering menjawab pertanyaan guru meskipun secara singkat, sedangkan siswa perempuan menjawab dengan bahasa yang lengkap dan sesuai dengan aturan berbahasa. Perbedaan inilah yang menyebabkan siswa perempuan memiliki kemampuan yang lebih rendah daripada siswa laki-laki dalam fisika.

Stadlert, et al., (2000) juga mengungkapkan bahwa dalam kegiatan kelompok, siswa laki-laki lebih mendominasi, mereka lebih aktif mengemukakan pendapatnya sedangkan siswa perempuan lebih sering mencatat hal-hal yang mereka temukan dalam kegiatan kelompok tersebut. Perbedaan lainnya yaitu siswa laki-laki cenderung menuntut solusi yang konkret sedangkan siswa perempuan merasa tidak apa-apa jika hanya diberikan jawaban akhirnya saja.

Taasoobshirazi (2007) menyatakan bahwa anak perempuan memiliki motivasi intrinsik yang lebih rendah, cenderung rendah diri, lebih tertarik pada penilaian yang lebih tinggi, dan lebih sedikit melihat kaitan dari ilmu fisika yang mereka pelajari dengan tujuan hidup mereka jika dibandingkan dengan anak laki-laki.

Gosling (2004) mengemukakan bahwa siswa sering menganggap bahwa fisika adalah suatu ilmu yang amat sulit dan tidak dapat dimengerti. Hal ini dikarenakan oleh pembelajaran fisika yang kebanyakan diajarkan dengan rumus-rumus sehingga pembelajaran tersebut cenderung seperti matematika. Banyak siswa menganggap ilmu fisika sebagai “worst subject” dan selalu dekat dengan guru dan laboratorium. Pembelajaran fisika seperti ini sering berdampak buruk pada siswa perempuan karena aspek dari ilmu fisika jarang dikaitkan dengan contoh dan aplikasi yang nyata dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini akan berakibat pada pemahaman mereka pada ilmu fisika itu sendiri.

Klik "Show" Untuk Melihat referensi
Azmi, Z. 2006. Perbandingan hasil belajar siswa berdasarkan gender pada konsep fotosintesis di kelas VIII semester I SMP Negeri 22 Bandung. Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Biologi, Universitas Pendidikan Indonesia. Tersedia pada http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-0622106100 703.

Gosling, C. 2004. Challenges facing high school physics students: An annotated synopsis of peer-reviewed literature addressing curriculum relevance and gender. Journal of Physics Teacher Education Online. 2 (2). 3-9. Tersedia pada http://www.phy.ilstu.edu/jpteo/issues/jpteo2(2)nov04. pdf.

Permana, T. 2005. Pemahaman konsep PSG dan intensitas bimbingan terhadap kemampuan membimbing siswa PSG. Invotec. 3(7). 33-39. Tersedia pada http://pkk.upi.edu/invotec_33-39.pdf.

Rohimah, I. 2006. Kemampuan komunikasi personal siswa SMA menurut gender pada pembelajaran konsep lingkungan. Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Biologi, Universitas Pendidikan Indonesia. Tersedia pada http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-0416107143 100.

Santrock, J. W. 2008. Psikologi pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Stadlert, H., Duit, R., & Benke, G. 2000. Do boys and girls understand physics differently? Phys. Educ. 35(6). 417-422.

Suciani, N. M. 2003. Kemampuan menjawab soal matematika bentuk pilihan ganda pada siswa laki-laki dan perempuan kelas 1 semester I di SMU Negeri Denpasar Tahun Ajaran 2002/2003. Tesis (tidak diterbitkan). Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Program Pasca Sarjana, IKIP Negeri Singaraja.

Wen, C. 2008. Perbedaan gender di dalam otak. Artikel. Diakses dari http://tepatti.blogspot.com.
Gender Gender Reviewed by Sastra Project on July 13, 2014 Rating: 5

1 comment:

Silakan tinggalkan komentar untuk kemajuan blog ini

Powered by Blogger.