Model Pembelajaran Learning objects

Model learning objects merupakan pembelajaran yang menggunakan objek berupa benda, gambar, dan fenomena alam sebagai sumber belajar (Wiley, 2000). Media yang digunakan sebagai sumber belajar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat serta perhatian siswa sehingga proses belajar mengajar lebih bermakna. Penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menemukan konsepnya sendiri (Cochrane, 2004). Model learning objects juga merupakan proses pembelajaran yang interaktif yang menuntut adanya eksplorasi, penyelidikan, membangun solusi dan menggeser pembelajaran dari pembelajaran menggunakan hafalan menjadi pembelajaran yang menghubungkan suatu konsep dengan fakta yang ada dalam kehidupan sehari-hari (Kay & Knaack, 2005).
Model learning objects merupakan suatu rangkaian yang digunakan untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna. Hal ini dikarenakan skenario pembelajaran dari model learning objects lebih menekankan pada pengetahuan awal siswa sehingga pengetahuan awal tersebut dapat membantu siswa untuk mengatasi berbagai kesulitan dalam belajar. Model learning objects memberikan harapan kepada siswa untuk mencoba menemukan suatu gagasan/konsep dari dirinya sendiri dengan membiarkan siswa belajar dari kekeliruannya. Model learning objects memfasilitasi pembelajaran sehingga akan terjadi umpan balik dari siswa dan dapat mencapai tujuan pembelajaran serta dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar (Akpinar, 2008). 

Manfaat praktis penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut: (1) media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar; (2) media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya; (3) media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu; dan (4) media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan sehari-hari (Akpinar & Simsek, 2007). 

Model learning objects digunakan sebagai petunjuk umum dalam belajar yang berkualitas. Model learning objects ini dapat dibedakan dengan pendekatan lainnya, yang membedakannya adalah: 1) karakteristik model learning objects yang lebih menekankan pada proses dan produk.; 2) lebih menekankan pada aktivitas siswa dalam menganalisis suatu objek dan fenomena sehingga dapat menemukan sendiri konsep yang akan dibahas; dan 3) karakteristik lingkungan sangat mempengaruhi dalam pembelajaran (Akpinar, 2008).

Model Learning objects mampu mengembangkan pembelajaran yang efektif dengan menggunakan pengalaman siswa secara langsung, menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata serta melakukan kolaborasi untuk menemukan sendiri konsep pengetahuan. Pengembangan model learning objects bermanfaat bagi siswa dan para pengajar. Manfaat bagi siswa adalah siswa dapat belajar lebih efektif, di mana siswa dapat bekerja sama dalam memecahkan masalah, dan eksplorasi suatu konsep pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Manfaat bagi pengajar adalah dapat meningkatkan produktivitas pendidik, dan kerja sama antara pendidik dalam mengembangkan sumber pengetahuan yang lebih inovatif (Salas, & Ellis, 2006).

Manfaat model learning objects ini yaitu: (1) meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar, (2) menilai perkembangan hasil belajar siswa, (3) memotivasi adanya umpan balik dari siswa, (4) melatih para siswa untuk berpikir kritis, (5) memberikan peluang kepada siswa untuk melakukan interaksi dan diskusi dalam proses pembelajaran, serta (6) meningkatkan kesadaran kehadiran siswa di kelas (Bergtrom, 2006). Boyle & Jones, (2007) menyatakan bahwa model learning objects berpijak pada filsafat kontruktivisme. Pendapat ini juga didukung oleh Nash (2005), yang menyatakan bahwa model learning objects didisain berdasarkan atas prinsip pembelajaran konstruktivisme yang akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Kombinasi antara pengetahuan dan pengalaman akan merangsang daya ingat pengetahuan siswa ke arah yang lebih baik, sehingga mampu menggeser pengetahuan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang siswa.

Model learning objects ini menekankan bagaimana siswa memahami suatu konsep dengan menggunakan objek, kemudian menerapkan konsep tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, serta cara untuk menyelesaikan masalah dari penerapan konsep tersebut. Instrumen evaluasi yang digunakan dalam model learning objects yang diadaptasi dari (Krauss & Ally, 2005) yaitu: (1) dilihat dari segi kualitas konsep atau materi; (2) kesesuaian konsep dengan tujuan pembelajaran, dan karakteristik pelajar; (3) umpan balik dan adaptasi yang dikemukakan baik siswa maupun guru; (4) kemampuan untuk memotivasi siswa untuk belajar; (5) mendisain suatu presentasi dengan merancang informasi sehingga dapat meningkatkan proses pembelajaran; dan (6) menumbuhkan interaksi antar siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. 

Dawn, et al., (2005) menyatakan terdapat empat jenis penilaian dalam model learning objects yang dapat diklasifikan melalui mengevaluasi konteks, penilaian terhadap input, penilaian terhadap proses, dan penilaian terhadap produk yang dihasilkan. Model learning objects memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar mempresentasikan suatu konsep yang mereka temukan, sehingga dapat meningkatkan kompetensi berpikir kritis siswa. Langkah pembelajaran dengan menggunakan model learning objects adalah sebagai berikut (Akpinar & Simsek, 2007).

1. Objek dan fenomena riil dari pengalaman sehari-hari digunakan sebagai sumber belajar bagi siswa. Objek adalah suatu benda sedangkan fenomena adalah gejala yang teramati pada objek. Sumber belajar pada model learning objects bukan dari guru, melainkan dari objek dan fenomena alam itu sendiri sehingga pembelajaran tidak bersifat abstrak. Objek dan fenomena riil dari pengalaman di lingkungan sehari-hari terlebih dahulu ditampilkan pada awal pembelajaran, sehingga dapat memotivasi siswa dalam belajar.

2. Metode ilmiah digunakan untuk menggambarkan parameter pada objek dan fenomena. Metode ilmiah meliputi observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, dan penarikan kesimpulan. Siswa menggunakan metode ilmiah untuk menganalisis objek dan fenomena riil dari pengalaman sehari-hari yang diberikan oleh guru pada saat awal pembelajaran. Menganalisis suatu objek bertujuan untuk mengetahui konsep apa yang terdapat pada objek tersebut, dan sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis siswa. 

3. Prinsip atau teori adalah penjelasan mengenai objek dan fenomena riil dari pengalaman sehari-hari. Guru membimbing siswa dalam menemukan penjelasan mengenai objek dan fenomena riil dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang terstruktur, sehingga siswa diharapkan dapat menemukan sendiri prinsip atau teori yang terdapat pada objek dan fenomena riil yang diberikan oleh guru.

4. Struktur konsep adalah suatu konsep yang memiliki organisasi kognitif yang membuat komponen-komponennya (objek dan fenomena, prinsip atau teori, serta aturan penerapan konsep tersebut) lebih bermakna. Siswa bersama kelompoknya berkolaborasi dalam mengungkapkan suatu ide atau gagasan yang terkandung dalam objek dan fenomena riil tersebut, kemudian siswa bersama kelompoknya merealisasikan pemahaman konsep yang terkandung pada suatu objek dengan menyusun struktur konsep berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa.

5. Persentasi bertujuan melatih siswa dalam mengutarakan pendapatnya. Salah satu kelompok diminta untuk mempersentasikan struktur konsep yang mereka buat dari analisis objek dan fenomena alam tersebut. Kelompok yang tidak persentasi diminta menanggapi, menilai, dan menambahkan jika ada konsep yang dianggap kurang, sehingga nantinya akan terjadi interaksi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Melalui persentasi ini diharapkan dapat memperbaiki sikap siswa, dari siswa yang hanya biasanya diceramahi saja pada saat pembelajaran menjadi siswa yang suka berpikir. Persentasi ini juga membantu siswa menentukan dugaan yang tepat, di mana dari siswa yang miskonsepsi terhadap suatu konsep dapat membentuk konsep yang benar. 

6. Pada tahap evaluasi struktur konsep, guru melakukan penilaian terhadap struktur konsep yang dibuat oleh siswa, dan mengadakan perbaikan jika terdapat konsep yang kurang tepat. Siswa belajar dengan menemukan sendiri dan dapat belajar dari kekeliruannya.

7. Guru membimbing siswa dalam mengintegrasikan prinsip atau teori ke dalam suatu penjelasan atau persamaan parametrik. Kemampuan siswa menurunkan rumus untuk menyelesaikan masalah bergantung pada pemahaman siswa dalam menganalisis konsep/materi yang terkandung pada objek dan fenomena dalam kehidupan riil.

8. Siswa yang sudah memahami suatu konsep, diminta untuk mengaplikasikan prinsip atau persamaan parametrik untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Guru melontarkan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari bertujuan agar pembelajaran tidak bersifat abstrak dan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa Guru juga memberikan suatu permasalahan kepada siswa untuk dikerjakan dirumah sebagai PR.

Langkah pembelajaran dengan menggunakan model learning objects dapat ditunjukan pada Gambar dibawah



KLIK "Show" UNTUK MELIHAT REFERENSI


Akpinar, Y. & H. Simsek. 2007. Should K-12 teachers develop learning objects? Evidence from the field with K-12 students. International Journal of Instructional Technology and Distance Learning, 4(3), 31-44. Tersedia pada http://www.itdl.org/Journal.pdf. Diakses pada tanggal 29 Nopember 2008.

Akpinar, Y. 2008. Validation of a learning object review instrument: Relationship between ratings of learning objects and actual learning outcomes. Interdisciplinary Journal of E-Learning and Learning Object, 4, 292-302.

Budiningsih, C. A. 2005. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Bergtrom, G. 2006. Clicker sets as learning objects. Interdisciplinary Journal of Knowledge and Learning Objects, 2, 105-110. Tersedia pada http://www.ijklo.org/Volume2/v1p105-110Bergtrom.pdf. Diakses pada tanggal 25 November 2008.

Boyle, T. & R. Jones. 2007. Learning object patterns for programming. Interdisciplinary Journal of Knowledge and Learning Objects, 3, 19-28. Tersedia pada http://www.ijklo.org/Volume3/v1p19-28Boyle_Jones.pdf. Diakses pada tanggal 28 November 2008.

Cochrane, T. 2004. Interactive quicktime: Developing and evaluating multimedia learning objects to enhance both face to face and distance e-learning environments. Tersedia pada http://www.ascilite.org.au/conferences/perth04/procs/cochrane.html. Diakses pada tanggal 3 Nopember 2008.

Dawn, B., dkk. 2005. Learning objects in use: ‘Lite’ assessment for field studies. Merlot Journal of Online Learning and Teaching, 1(1), 1-18.

Kay, R. & L. Knaack. 2005. Developing learning objects for secondary school students: A multicomponent model. Interdisciplinary Journal of Knowledge and Learning Objects, 1, 229-254. Tersedia pada http://www.ijklo.org/Volume1/v1p229-254Kay_Knaack.pdf. Diakses pada tanggal 29 Nopember 2008.

Kerlinger, F. N. 2000. Asas-asas penelitian behavioral. Terjemahan: Foundation behavioral research, oleh: Simatupang, L. R., & Koesoemanto, H. J. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Krauss, F. & M. Ally. 2005. A study of the design and evaluation of a learning object and implications for content development. Interdisciplinary Journal of Knowledge and Learning Objects, 1, 1-22. Tersedia pada http://ijklo.org/Volume1/v1p001-022Krauss.pdf. Diakses pada tanggal 29 Nopember 2008.

Salas, K. & Ellis, L. 2006. The development and implementation of learning objects in a higher education setting. Interdisciplinary Journal of Knowledge and Learning Objects, 2, 1-22. Tersedia pada http://ijklo.org/Volume2/v2p001-022deSalas.pdf. Diakses pada tanggal 29 Nopember 2008.

Sanjaya, W. 2008. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana.

Semerci, C. 2005. The influence of the Critical Thinking Skills on the Students’Achievement. Pakistan Journal of Social Sciences, 3(4), 598-602. Tersedia pada http://www.medwelljournals.com/fulltext/pjss/2005/598-602. pdf. Diakses pada 16 Oktober 2008.

Wiley, D. A. (2000). Connecting learning objects to instructional design theory: A definition, a metaphor, and a taxonomy. In D. A. Wiley (Ed.), The instructional use of learning objects. Tersedia pada http://reusability.org/read/chapters/wiley.doc. Diakses pada tanggal 20 September 2008.
Model Pembelajaran Learning objects Model Pembelajaran Learning objects Reviewed by Sastra Project on June 10, 2015 Rating: 5

1 comment:

Silakan tinggalkan komentar untuk kemajuan blog ini

Powered by Blogger.