Model Pembelajaran Partisipatori

Model pembelajaran partisipatori merupakan model pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk berekspresi sesuai minat dan bakatnya dalam pembelajaran. Dalam model pembelajaran partisipatori, siswa menempatkan dirinya dalam suatu peran yang aktif dalam pembelajaran (Ajiboye & Ajitoni, 2008). Siswa memiliki keleluasaan yang sangat besar dalam mengembangkan kemampuannya baik dalam menemukan masalah, mencari informasi, dan merekonstruksi informasi sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah. Ciri khas model pembelajaran ini adalah student centered yang artinya siswa atau peserta didik memiliki kebutuhan belajar, memahami teknik-teknik belajar, dan berperilaku belajar. Tugas guru dalam model pembelajaran ini adalah untuk mengarahkan siswa serta menjadi fasilitator dan mediator bagi siswa pada saat siswa mengalami kesulitan dalam merekonstruksi informasi (Barak & Shakhman, 2008).
Kegiatan pembelajaran siswa pada model pembelajaran partisipatori difokuskan pada masalah (Ajiboye & Ajitoni, 2008). Masalah yang dihadapkan pada siswa merupakan masalah yang cukup kontekstual dan sering ditemui siswa. Dalam memecahkan masalah, siswa akan mengeksploitasi kemampuannya secara maksimal untuk menyelesaikan masalah tersebut. Siswa juga dapat berkreasi sesuai dengan kemampuannya dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Berdasarkan hasil pemecahan masalah tersebut, siswa akan memperoleh berbagai informasi tentang masalah tersebut. Informasi tersebut kemudian direkonstruksi oleh siswa sehingga akan didapat konsep dan prinsip. Dengan demikian, melalui model pembelajaran ini siswa akan membangun konsepnya sendiri. 

Dalam mengikuti model pembelajaran partisipatori, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui siswa dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut.

1) Tahap pembinaan keakraban. Tahap ini bertujuan membangun sebuah kondisi agar peserta didik siap melakukan kegiatan pembelajaran. Terciptanya suasana yang akrab di antara peserta didik memungkinkan dikembangkan sikap terbuka, saling mempercayai, dan saling menghargai. 

2) Tahap identifikasi kebutuhan, sumber dan hambatan. Pada tahap ini pendidik melibatkan siswa mengenali, menyatakan, dan merumuskan kebutuhan belajar, sumber-sumber yang tersedia dan hambatan yang mungkin dihadapi dalam kegiatan belajar.

3) Tahap perumusan tujuan belajar kegiatan. Dalam tahap ini ditandai oleh keikutsertaan peserta didik dalam menentukan tujuan belajar yang akan dicapai. 

4) Tahap penyusunan tujuan program pembelajaran. Tujuan yang terkandung dalam tahap kegiatan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki pengalaman bersama dalam menyatakan, memilih, menyusun, dan menetapkan program kegiatan belajar yang akan mereka tempuh. 

5) Tahap pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Pada tahap ini, peserta mengikuti kegiatan pembelajaran sesuai dengan langkah pembelajaran partisipatori. Tahap ini dibagi kembali dalam tiga tahap yaitu menemukan masalah, mencari informasi, dan merekonstruksi informasi. 

a) Tahap menemukan masalah. Siswa dapat mengajukan masalah sendiri atau mendapat masalah dari guru sesuai dengan materi ajar. Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, siswa dikelompokkan terlebih dahulu. Masalah yang akan dibahas merupakan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pada kegiatan ini, guru berperan dalam membantu siswa dalam mereorganisasi pengalaman sehari-hari siswa untuk membantu siswa menentukan masalah jika siswa mengalami kesulitan menemukan masalah.
b) Tahap mencari informasi. Siswa mengumpulkan informasi dari berbagai sumber baik dengan membaca maupun dengan melaksanakan eksperimen untuk menemukan jawaban permasalahan. Tahap ini dapat dilakukan di dalam kelas, di luar kelas, ataupun di luar sekolah. Pada kegiatan ini, guru berperan dalam memfasilitasi kegiatan yang dilaksanakan siswa. Misalnya jika siswa akan melaksanakan kegiatan praktikum maka guru harus menyiapkan perangkat praktikum.
c) Tahap rekonstruksi informasi. Siswa mengelaborasi informasi yang menjadi suatu prinsip dan konsep. Pada tahap ini, siswa menyusun sebuah teks yang berisi permasalahan yang diinvestigasi dan solusi yang mungkin. Pada kegiatan ini, guru berperan dalam memberikan bimbingan kepada siswa pada saat menemukan kesulitan mengelaborasi informasi.
d) Tahap presentasi hasil investigasi. Pada tahap ini, siswa mempresentasikan hasil analisis informasi mereka di kelas. Pada tahap ini guru berperan dalam meluruskan miskonsepsi yang muncul pada saat pembelajaran berlangsung.

6) Tahap evaluasi kegiatan pembelajaran. Pada tahap ini siswa selain diberikan penilaian hasil belajar, juga dihadapkan pada suatu permasalahan baru. Pada tahap ini siswa akan mengembangkan kemampuannya dalam menerapkan prinsip dan konsep yang dimiliki pada situasi baru.

Terdapat beberapa kategori dari konsep pembelajaran yang harus dikembangkan yaitu proses mengingat, mencari fakta, menerapkan informasi, melihat sesuatu menjadi lebih bermakna, dan pemahaman bagi diri sendiri (Brown et al., 2008; Ozturk et al., 2008). Semua konsep tersebut merupakan hal yang penting dan harus ada dalam setiap pembelajaran. Melihat sesuatu menjadi lebih bermakna dan pemahaman bagi diri sendiri merupakan dua konsep terpenting dalam pembelajaran. Melalui kedua konsep ini siswa dilatih untuk mereorganisasi informasi tidak hanya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada saat pembelajaran tetapi juga mampu menjiwai perilaku siswa itu sendiri. Dengan begitu konsep yang didapat dalam pembelajaran akan menjadi bekal yang terpenting dalam kehidupan siswa.

Pemfokusan kegiatan pembelajaran pada masalah yang kontekstual membuat pembelajaran menjadi berkesan bagi siswa. Hal ini akan berakibat pada lebih mantapnya konsep dan prinsip yang mampu dicerna oleh siswa sendiri (Jonassen, 2004; Wan, 2007). Selain itu, pembelajaran yang difokuskan pada masalah akan membuat pembelajaran lebih bermakna bagi siswa karena secara tidak langsung melalui pembelajaran siswa telah mampu menyelesaikan masalah yang sering ditemui dalam kehidupannya.

Model pembelajaran partisipatori lebih menitikberatkan peran siswa sebagai subjek aktif dalam pembelajaran. Tugas guru dalam pembelajaran hanya sebagai fasilitator dan mediator. Siswa diberikan kesempatan secara luas untuk mengkostruksi pengetahuan secara mandiri sesuai dengan pengetahuan awal yang dimiliki. Oleh karena itu, model pembelajaran ini sesuai dengan paham konstruktivisme yang merupakan paradigma pembelajaran sains menurut KTSP.

KLIK "Show" UNTUK MELIHAT REFERENSI
Ajiboye, J. O. & S. O. Ajitoni. 2008. “Effects of full and quasi–participatory learning strategies on nigerian senior secondary students’ environmental knowledge: Implications for classroom practice”. International Journal of Environmental & Science Education, Volume 3, Nomor 2 (hlm. 58–66). Diakses dari http://www.ijese.com/v3n2_ Ajiboye.pdf pada tanggal 26 Oktober 2008.

Barak, M. & L. Shakhman. 2008. “Reform-based science teaching: Teachers’ instructional practices and conceptions”. Eurasia Journal of Mathematics and Science Technology Education, Volume 4, Nomor 1 (hlm. 1-8). Diakses dari http/www.ejmste.com/Eurasia_v4n1_Barak. pdf pada tanggal 20 Mei 2008.

Brown, G. T. L., R. Lake, & G. Matters. 2008. “New Zealand and Queensland teachers’ conceptions of learning: Transforming more than reproducing”. Australian Journal of Educational & Developmental Psychology, Volume 8, Nomor 1 (hlm. 1-14). Diakses dari http://www.newcastle.edu.au/group/ajedp/Archive/Volume_8/v8-brown-et-al.pdf pada tanggal 8 November 2008.

Jonassen, D. H. 2004. Learning to solve problems. San Francisco: Pfeiffer.

Ozturk, M., M. E. Duru, M. A. Ozler, & M. Harmandar. 2008. “The effect of think-explain-apply teaching method on the success of learning-teaching: A laboratory study”. International Journal of Environmental & Science Education, Volume 2, Nomor 4 (hlm. 132–134). Diakses dari http://www.ijese.com/IJESEV2_N4_Ozturk.pdf pada tanggal 26 oktober 2008.

Wan, M. W. 2007. “Long-term memory and school performance following cognitive transition at five to seven years”. Australian Journal of Educational & Developmental Psychology, Volume 7, Nomor 1 (hlm. 1-10). Diakses dari http://www.newcastle.edu.au/group/ajedp/Archive/ Volume_7/v7-wan.pdf pada tanggal 8 November 2008.
Model Pembelajaran Partisipatori Model Pembelajaran Partisipatori Reviewed by Sastra Project on June 10, 2015 Rating: 5

No comments:

Silakan tinggalkan komentar untuk kemajuan blog ini

Powered by Blogger.