Model Pembelajaran Interactive Engagement (IE)

        Model pembelajaran IE merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada siswa (student centered), dimana siswa dilibatkan langsung dalam berbagai jenis kegiatan pembelajaran di kelas. Siswa tidak hanya duduk dan mendengarkan guru yang memberikan pelajaran atau melihat guru mengerjakan permasalahan di papan. Meskipun pembelajaran berorientasi pada siswa masih terdapat peranan guru dalam proses belajar mengajar yakni sebagai fasilitator. Menurut Cahyadi (2003) diskusi antar siswa yang terjadi pada model pembelajaran IE adalah constructivist classroom dialogue, dimana guru pertama kali menilai konsep awal siswa dan jika konsep awal siswa berbeda dengan konsep ilmiah maka akan terjadi sebuah pertentangan konsep.
Pertentangan konsep inilah yang akan menjadi proses dalam pembelajaran, yaitu ketika siswa bisa menyelesaikan pertentangan tersebut lalu menambahkan pengetahuan baru pada pengetahuan awal mereka. Sehingga, model pembelajaran IE membuat siswa saling berinteraksi dalam berbuat dan berpikir (hand on and minds on) yang menghasilkan umpan balik secara langsung terhadap materi pelajaran yang sedang diberikan (Hake, 1998). Aktivitas berpikir dan berbuat ini akan saling terkait ketika siswa diberikan sebuah masalah dan diberikan kesempatan untuk memecahkannya. Menurut McKaban et al., (2006) ketika siswa melakukan praktikum, siswa bersama kelompoknya dan terkadang dibantu oleh guru merancang langkah-langkah percobaan sendiri dalam mengatasi permasalahan yang diberikan sehingga siswa secara leluasa dapat mengambil suatu langkah untuk memecahkan permasalahan sesuai dengan pemahaman mereka. Dalam memecahkan sebuah permasalahan, siswa bekerjasama dengan siswa yang lain atau terkadang dibantu oleh guru. Hal ini dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dan dapat menghasilkan sebuah umpan balik (feed back) tentang materi yang diajarkan (Hake, 1998). Pemberian tugas rumah secara berkelompok yang tidak hanya pemecahan masalah hitungan saja juga dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, karena siswa dapat berinteraksi dengan temannya untuk mendapatkan pemecahan masalah yang benar (McKaban et al., 2006). Sehingga jika masih ada siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah yang kurang tentang materi tersebut, siswa yang lain akan menambahkannya.

Model pembelajaran IE memiliki beberapa langkah pembelajaran aktif sebagai berikut

1) Engagement
Kegiatan fase ini adalah menggali pengetahuan awal siswa, merangsang pikiran mereka dan membantu dalam mengakses pengetahuan awalnya. Memusatkan pikiran siswa, merangsang, memotivasi pikiran mereka dan membantu siswa membangkitkan rasa ingin tahunya. Guru memberikan pertanyaan kepada siswa dengan cara mendemonstrasikannya atau menceritakan sebuah fenomena. Siswa diberikan waktu untuk memberikan jawabannya secara individu sesuai dengan pengetahuan awal mereka.

2) Vote
Kegiatan fase ini adalah mengetahui pengetahuan awal siswa secara individu tentang pertanyaan yang diberikan oleh guru. Setiap siswa memberikan jawaban dan guru menghitung jumlah jawaban siswa.

3) Discussion
Kegiatan fase ini adalah memberikan kesempatan siswa untuk saling berpendapat dengan siswa yang lain (peer interaction) dalam kelompoknya. Siswa juga dapat berdiskusi dengan temannya yang ada di kelompok lain apabila siswa tersebut menginginkannya. Dalam kegiatan ini akan terjadi umpan balik pada setiap siswa mengenai konsep awalnya dengan konsep ilmiah. Siswa membentuk kelompok kemudian mendiskusikan permasalahan yang diberikan oleh guru dengan teman kelompoknya.

4) Revote
Kegiatan fase ini adalah mengetahui pengetahuan siswa setelah berdiskusi di dalam kelompok. Setiap siswa kembali memberikan jawaban dan guru menghitung jumlah jawaban siswa.

5) Exploration
Kegiatan fase ini adalah siswa mencari jawaban yang sesungguhnya dengan melakukan praktikum dibantu dengan LKS model pembelajaran IE. Pada fase ini siswa bersama teman dalam kelompoknya atau terkadang dibantu oleh guru merancang langkah-langkah dalam melaksanakan praktikum. Sehingga diharapkan siswa dapat mengatasi permasalahan yang mereka hadapi.

6) Instruction
Kegiatan fase ini adalah siswa melakukan diskusi tentang hasil yang mereka peroleh dalam praktikum kemudian menjelaskan dengan teman yang lain sehingga akan terjadi instruksi antar teman sebaya dan guru. Guru akan memberikan penguatan (reinforcement) materi kepada siswa apabila terdapat siswa yang masih belum paham atau miskonsepsi.

7) Homework
Kegiatan fase ini adalah siswa diberikan sebuah tugas secara berkelompok untuk menguatkan materi yang telah dibahas. Tugas yang diberikan kepada siswa diharapkan membuat semua anggota kelompok dapat berkolaborasi dan bekerja sama dalam melaksanakannya. Tugas yang diberikan juga diharapkan bukan hanya permasalahan hitungan.
Teori Konstruktivisme dalam Model Pembelajaran Interactive Engagement (IE)

        Dalam model pembelajaran Interactive Engagement (IE) siswa dilibatkan dalam berbagi jenis kegiatan terbimbing di kelas di mana mereka melakukan sesuatu di kelas selain duduk dan mendengarkan guru yang memberikan pelajaran atau melihat guru mengerjakan permasalahan di papan (Jonas & Sparks, 2005). Definisi ini memiliki 2 implikasi yaitu di kelas siswa bukanlah penerima pasif dari pengetahuan tetapi merupakan pebelajar yang berpartisipasi aktif dan guru bukan merupakan sumber informasi tetapi berperan sebagai pelatih atau penasihat (Jonas & Sparks, 2005). Proses belajar mengajar ini sesuai dengan teori konstruktivisme. Konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi kognitif melalui aktivitas seseorang. Pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang pada saat berinteraksi dengan lingkungannya (Glasersfeld dalam Ratumanan, 2002). Proses pembentukan ini berjalan terus menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru (Piaget dalam Suparno, 1997). Menurut Suparno (1997), ada empat prinsip konstruktivis dalam belajar yakni sebagai berikut. 1) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial, 2) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari pembelajar ke pebelajar, kecuali dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk menalar, 3) Pebelajar aktif mengkonstruksi terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah, dan 4) Pembelajar sekedar membantu pebelajar menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi pebelajar berlangsung secara efektif dan efesien. Implikasi prinsip-prinsip belajar tersebut dalam proses pembelajaran adalah mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pembelajar ke pebelajar.

Elemen kunci dari teori konstruktivisme adalah bahwa orang belajar secara aktif mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri, membandingkan informasi baru dengan pemahaman sebelumnya dan menggunakannya untuk menghasilkan pemahaman baru (Ratumanan, 2002). Menurut para konstruktivis (dalam Suparno et al., 2001), pengetahuan itu dapat dibentuk secara pribadi (personal). Di mana siswa itu sendiri yang membentuk pengetahuan. Semua hal lain termasuk pelajaran dan arahan guru hanya merupakan bahan yang harus diolah dan dirumuskan oleh siswa sendiri. Tanpa siswa sendiri aktif mengolah, mempelajari dan mencerna, ia tidak akan menjadi tahu. Maka, dalam pengertian ini, pendidikan atau pengajaran harus membantu anak didik aktif belajar sendiri. Namun, pengetahuan juga dapat dibentuk secara sosial (bersama).

Vygotsky (dalam Suparno et al., 2001) mengatakan bahwa pengetahuan anak dibentuk dalam kerjasama dengan teman lain (peer colaboration). Sehingga Vygotsky menekankan pentingya kerjasama atau studi kelompok. Model pembelajaran IE merupakan model yang didesain untuk meningkatkan pengetahuan konseptual melalui keterlibatan siswa dalam berpikir dan berbuat sehingga menimbulkan feedback (umpan balik) yang cepat melalui diskusi dengan teman atau guru (Hake, 1998). Dalam model pembelajaran IE, siswa diberikan pertanyaan yang menuntut kemampuan pemecahan masalah. Lalu mereka disuruh untuk meyakinkan teman di sebelahnya, bahwa mereka memiliki jawaban yang benar disertai dengan pendapat yang sesuai. Jawaban siswa dapat memancing umpan balik yang akan menjelaskan jawaban yang benar dan beralasan. Dalam studi kelompok itu, siswa dapat saling mengoreksi, mengungkapkan gagasan dan saling meneguhkan. Menurut Ardhana et al. (2004), teman sebaya dapat berfungsi sebagai model. Model peniruan teman sebaya (peer copying model) dan model penguasaan teman sebaya (peer mastery model) berpengaruh positif terhadap self-efficacy, motivasi, regulasi diri, dan prestasi. Menurut Fawcett et al. (dalam Gupta, 2008) menyatakan kolaborasi teman sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, walaupun tergantung dari beberapa hal, seperti faktor usia, tingkat kemampuan, teman yang diajak berkolaborasi, motivasi, keyakinan, jenis kelamin, dan tes.
Model Pembelajaran Interactive Engagement (IE) Model Pembelajaran Interactive Engagement (IE) Reviewed by Sastra Project on January 09, 2013 Rating: 5

2 comments:

Silakan tinggalkan komentar untuk kemajuan blog ini

Powered by Blogger.